KEMARIN polisi Surabaya sangat sibuk. Pelalu lintas dan warga di Surabaya juga waswas, khawatir meningkatnya kemacetan. Apalagi, kalau bukan karena adanya tamu-tamu gede dengan motor gede (moge) memasuki wilayah ini. Jumlahnya sekitar 300 moge. Arak-arakan itu berlabel bagian dari kegiatan menyambut 100 tahun Kebangkitan Nasional, hajat nasional yang memang harus dirayakan bersama.

Sekitar 500 polisi Surabaya dikerahkan untuk mengamankan kegiatan tersebut. Mereka tak bisa menolak karena izin arak-arakan moge itu dari pemerintah pusat di Jakarta. Apa dayalah aparat di daerah? Yang membanggakan, di tengah sikap tidak bisa menolak ini, polisi Surabaya cukup profesional. Gangguan kepada pelalu lintas yang setiap hari sangat padat di jalan-jalan di Surabaya bisa diminimalkan. Jadwal rute keliling tengah kota “digunting”. Pengawalan jadwal juga ketat dan tegas.

Setelah masuk dari tol Gresik, para pemoge yang diiringi 40-an mobil langka yang mahal ini akhirnya berhenti di Tugu Pahlawan. Dari sana mereka membeli BBM di pom bensin milik instansi militer di Jalan Ahmad Yani, jalur protokol. Setelah itu, tamu-tamu jauh tersebut istirahat di hotel bintang lima Shangri-La sebelum melanjutkan perjalanan ke Kediri. Polisi dan pelalu lintas Surabaya boleh lega. Giliran polisi di kota-kota Kediri serta kota-kota lain yang akan dilalui harus bekerja ekstra.

Ketika rombongan moge menjelang dan saat memasuki Surabaya, komentar publik banyak yang mengekspresikan ketidaksukaan. Suara mereka bisa didengar lewat pesan yang dibacakan maupun diperdengarkan langsung lewat radio kemarin. Termasuk dari sopir pengirim barang (angkutan ekonomi) yang terhambat karena harus mengalah pada rombongan pelesiran itu.

Mungkin para tamu dari Jakarta itu kecewa mendengar komentar tersebut. Tetapi, dengan kepekaan yang biasa-biasa saja, mereka sudah tahu komentar yang bakal muncul.

Tak heran bila orang mengaitkan arak-arakan itu dengan sikap tidak sensitif orang-orang besar dan orang berpunya. Saat ini banyak rakyat empot-empotan menunggu kenaikan BBM dan dikejar kenaikan harga-harga. Kenaikan BBM mungkin akan menggulingkan periuk nasi mereka. Tapi, para pemoge itu begitu mudah menderumkan mesin moge, melakukan rekreasi mahal.

Mereka juga dikawal khusus dengan jalur khusus. Rambu lalu lintas di pintu tol, berupa gambar sepeda motor digaris merah dalam lingkaran alias motor dilarang masuk, tak berlaku buat mereka. Alangkah istimewanya para penunggang moge itu. Padahal, motor yang akan mengawal VVIP yang masuk ke tol pun dilarang.

Mereka sebenarnya ingin memberi penanda pada Kebangkitan Nasional. Tapi, apa kaitannya? Kalau memang moge itu produksi Indonesia, bolehlah dibanggakan. Tapi, orang tahu produksi mana moge itu. Lagi pula, ongkos untuk arak-arakan itu, Rp 5 miliar, jauh lebih berarti apabila disumbangkan untuk membantu rakyat secara langsung. Memang, tidak meriah dan tak heboh di jalanan, tetapi jelas lebih terasa ketulusannya.

Apa bermoge tidak boleh? Tentu saja tak bisa dilarang. Tetapi, kalau melewati jalan raya, ya harus mematuhi aturan seperti warga negara lain. Kalau memang tidak nyaman dengan mematuhi aturan di jalan, misal dengan alasan mesin moge berspesifikasi khusus, silakan bermoge di tempat khusus pula.

Tapi, ya sudahlah. Mari mengasah bisikan nurani, agar lebih peka.

Tulis sebuah Komentar

*
*